Literasi dasar yang baik merupakan salah satu keterampilan yang dibutuhkan untuk mempersiapkan di abad 21 (Kemendikbud, 2016). Keterampilan literasi dasar di antaranya adalah menerapkan keterampilan inti untuk kegiatan sehari-hari. Keterampilan ini dapat beraneka ragam, keterampilan inti yang dimaksud berkaitan dengan pengetahuan seseorang terhadap bidang tertentu.
Adapun komponen dalam literasi dasar yaitu kemampuan baca-tulis-berhitung, sains, teknologi informasi dan komunikasi (TIK), keuangan, budaya, dan kewarganegaraan. Berdasarkan (Kemendikbud, 2016), berikut ini adalah definisi dari beberapa komponen literasi dasar:
membuat keputusan tentang alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui aktivitas
manusia.
pengetahuan, keyakinan dan keterampilan konsumen dan masyarakat luas sehingga mereka mampu mengelola keuangan dengan baik. Literasi Keuangan memiliki tujuan jangka panjang bagi seluruh golongan masyarakat, yaitu meningkatkan literasi seseorang yang sebelumnya less literate, yaitu
hanya memiliki pengetahuan tentang lembaga jasa keuangan, produk dan jasa keuangan atau
bahkan not literate, menjadi well literate, yakni memiliki pengetahuan dan keyakinan tentang lembaga jasa keuangan serta produk jasa keuangan, termasuk fitur, manfaat dan risiko, hak dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan, serta memiliki keterampilan dalam menggunakan produk dan jasa keuangan.
Literasi Budaya:
Literasi Budaya adalah kemampuan untuk mengetahui budaya yang dimiliki bangsa, baik kearifan local maupun budaya nasional, serta kemampuan dan keinginan untuk melestarikan dan emngembangkan kebudayaan tersebut. Literasi budaya bertujuan untuk mencegah lunturnya budaya lokal akibat imbas dari masuknya budaya global yang sangat kuat. Untuk meredam pengaruh-pengaruh budaya global yang kuat itu diperlukan literasi dan kesadaran masyarakat akan pentingnya
pelestarian budaya lokal. Kondisi saat ini, banyak generasi mudayang mulai tidak tahu budayanya
sendiri.
Sementara itu, literasi matematika disoroti oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dan Asian Development Bank (OECD/Asian Development Bank, 2015: 278). Mereka melakukan penelitan melalui PISA (Programme for International Student Assessment) yang dilakukan pada siswa Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di seluruh negara dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2015. Berdasarkan hasil PISA tersebut, diperoleh data kemampuan matematika, sains, dan literasi siswa di Indonesia dalam kurun waktu 15 tahun berada di bawah rata-rata (OECD, 2015). Literasi matematika sendiri menurut OECD/PISA dinyatakan sebagai berikut : Matematical literacy is an individual’s capacity to identify and understand the role that mathematics plays in the world, to make well-founded judgements and to use engage with mathematics in ways that meet the needs of that individual’s life as a constructive, concerned and reflective citizen.
Berdasarkan definisi tersebut, dapat dikatakan bahwa seseorang yang memiliki kemampuan literasi matematika yang baik akan mampu mengaitkan peranan matematika untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari tersebut, secara umum dibutuhkan kemampuan penyelesaian masalah, penalaran, dan menganalisis informasi. Sedangkan kemampuan spesifik matematika yang dibutuhkan adalah menggunakan angka untuk menyelesaikan masalah nyata, memahami simbol matematika dalam mengolah informasi, membuat deduksi matematika dan menerapkan konsep, prosedur, fakta dan alat matematika untuk menggambarkan, menjelaskan dan memprediksi fenomena yang ada.
Kemampuan literasi yang baik dapat diperoleh dengan cara banyak membaca berbagai literatur maupun berbagai sumber informasi. Siswa perlu tahu apa arti simbol maupun pernyataan matematika ketika membaca paragraf tetapi mereka juga perlu tahu cara membaca grafik dan persamaan yang melibatkan simbol dan representasi visual dari data. Mereka juga perlu memahami cara "menulis" secara matematiks untuk menyampaikan ide-ide mereka dengan benar. Begitu mereka memiliki kosakata, mereka perlu belajar bagaimana menggunakannya dengan tepat.
Sumber:
Kemendikbud. (2016). Gerakan Literasi untuk Tumbuhkan Budaya Literasi. Jendela Pendidikan dan Kebudayaan, VI, 6.
Adapun komponen dalam literasi dasar yaitu kemampuan baca-tulis-berhitung, sains, teknologi informasi dan komunikasi (TIK), keuangan, budaya, dan kewarganegaraan. Berdasarkan (Kemendikbud, 2016), berikut ini adalah definisi dari beberapa komponen literasi dasar:
- Kemampuan literasi baca-tulis-berhitung :
- Literasi sains :
membuat keputusan tentang alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui aktivitas
manusia.
- Literasi Teknologi Informasi danKomunikasi (TIK) :
- Literasi Keuangan:
pengetahuan, keyakinan dan keterampilan konsumen dan masyarakat luas sehingga mereka mampu mengelola keuangan dengan baik. Literasi Keuangan memiliki tujuan jangka panjang bagi seluruh golongan masyarakat, yaitu meningkatkan literasi seseorang yang sebelumnya less literate, yaitu
hanya memiliki pengetahuan tentang lembaga jasa keuangan, produk dan jasa keuangan atau
bahkan not literate, menjadi well literate, yakni memiliki pengetahuan dan keyakinan tentang lembaga jasa keuangan serta produk jasa keuangan, termasuk fitur, manfaat dan risiko, hak dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan, serta memiliki keterampilan dalam menggunakan produk dan jasa keuangan.
Literasi Budaya:
Literasi Budaya adalah kemampuan untuk mengetahui budaya yang dimiliki bangsa, baik kearifan local maupun budaya nasional, serta kemampuan dan keinginan untuk melestarikan dan emngembangkan kebudayaan tersebut. Literasi budaya bertujuan untuk mencegah lunturnya budaya lokal akibat imbas dari masuknya budaya global yang sangat kuat. Untuk meredam pengaruh-pengaruh budaya global yang kuat itu diperlukan literasi dan kesadaran masyarakat akan pentingnya
pelestarian budaya lokal. Kondisi saat ini, banyak generasi mudayang mulai tidak tahu budayanya
sendiri.
- Literasi Kewarganegaraan:
Sementara itu, literasi matematika disoroti oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dan Asian Development Bank (OECD/Asian Development Bank, 2015: 278). Mereka melakukan penelitan melalui PISA (Programme for International Student Assessment) yang dilakukan pada siswa Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di seluruh negara dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2015. Berdasarkan hasil PISA tersebut, diperoleh data kemampuan matematika, sains, dan literasi siswa di Indonesia dalam kurun waktu 15 tahun berada di bawah rata-rata (OECD, 2015). Literasi matematika sendiri menurut OECD/PISA dinyatakan sebagai berikut : Matematical literacy is an individual’s capacity to identify and understand the role that mathematics plays in the world, to make well-founded judgements and to use engage with mathematics in ways that meet the needs of that individual’s life as a constructive, concerned and reflective citizen.
Berdasarkan definisi tersebut, dapat dikatakan bahwa seseorang yang memiliki kemampuan literasi matematika yang baik akan mampu mengaitkan peranan matematika untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari tersebut, secara umum dibutuhkan kemampuan penyelesaian masalah, penalaran, dan menganalisis informasi. Sedangkan kemampuan spesifik matematika yang dibutuhkan adalah menggunakan angka untuk menyelesaikan masalah nyata, memahami simbol matematika dalam mengolah informasi, membuat deduksi matematika dan menerapkan konsep, prosedur, fakta dan alat matematika untuk menggambarkan, menjelaskan dan memprediksi fenomena yang ada.
Kemampuan literasi yang baik dapat diperoleh dengan cara banyak membaca berbagai literatur maupun berbagai sumber informasi. Siswa perlu tahu apa arti simbol maupun pernyataan matematika ketika membaca paragraf tetapi mereka juga perlu tahu cara membaca grafik dan persamaan yang melibatkan simbol dan representasi visual dari data. Mereka juga perlu memahami cara "menulis" secara matematiks untuk menyampaikan ide-ide mereka dengan benar. Begitu mereka memiliki kosakata, mereka perlu belajar bagaimana menggunakannya dengan tepat.
Sumber:
Kemendikbud. (2016). Gerakan Literasi untuk Tumbuhkan Budaya Literasi. Jendela Pendidikan dan Kebudayaan, VI, 6.
OECD/Asian
Development Bank (2015), Education in Indonesia: Rising to the Challenge,
Paris : OECD. http://dx.doi.org/10.1787/9789264230750-en
OECD. (2015). PISA 2015 key findings for Indonesia. Retrieved 15/07/2019, 2015, from http://www.oecd.org/pisa/pisa-2015-indonesia.htm
Comments
Post a Comment